Skip to content

Categories:

PENGARUH KONSENTRASI DAN WAKTU PEMBERIAN GIBERELIN PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.)

Hidayatul Muhyidin*), Titiek Islami dan Moch. Dawam Maghfoer

Tomat merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi, kebutuhan tomat dari tahun ke tahun selalu meningkat. Peningkatan pembentukan fruit set dapat dibantu dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Giberelin. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan konsentrasi dan waktu pemberian giberelin (GA3) yang tepat dan optimum bagi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Kecamatan Karangploso, Malang, pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2015. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor pertama  konsentrasi GA3 dengan 3 taraf yaitu 25 ppm (G1), 45 ppm (G2) dan 65 ppm (G3) dan faktor kedua waktu pemberian GA3 dengan 3 taraf yaitu saat muncul bunga (W1), saat Muncul Buah (W2) serta saat muncul bunga dan muncul buah (W3). Dari kedua faktor tersebut diperoleh 9 perlakuan dan 1 kontrol yang diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara pemberian konsentrasi giberelin dan waktu aplikasi giberelin pada pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Waktu aplikasi giberelin hanya mampu meningkatkan jumlah buah. Sedangkan pada pemberian konsentrasi giberelin 25 ppm, 45 ppm, dan 65 ppm secara nyata dapat meningkatkan jumlah buah (24%), jumlah tandan buah (18%), jumlah buah panen per tanaman (20%), berat total buah per tanaman (42%), bobot segar per buah (16%), diameter buah (14%) dan panjang buah (13%). Perlakuan konsentrasi giberelin tidak dapat meningkatkan pada parameter pertumbuhan tanaman tomat.

Kata kunci: Tomat, ZPT Giberelin, Konsentrasi Giberelin, Waktu    Pemberian Giberelin.

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH WAKTU PENYIANGAN GULMA DAN SISTEM PERTANIAN PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa)

Safitri Dwi Rahmawati*), Sisca Fajriani dan Husni Thamrin Sebayang

Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman penghasil karbohidrat utama yang dibutuhkan oleh penduduk Indonesia. Salah satu penyebab rendahnya hasil produksi tanaman padi adanya gulma pada lahaan budidaya. Keberadaan gulma sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, karena tanaman padi dan gulma akan berkompetisi mendapatkan unsur hara, air, cahaya dan ruang tumbuh. Oleh karena itu perlu adanya teknologi peningkatan hasil tanaman padi yang ramah lingkungan dengan sistem pertanian dan waktu pengendalian gulma yang tepat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian dilaksanakan pada bulan bulan Mei sampai September 2015 di Desa Sukolilo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinanasi perlakuan sistem pertanian dan waktu penyiangan gulma menunjukkan hasil yang berbeda. Sistem pertanian berlanjut dengan waktu penyiangan berbeda menunjukkan hasil pertumbuhan dan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional dengan waktu yang berbeda. Keberadaan bebek pada lahan pertanian berlanjut membantu proses penyiangan gulma. Menurut hasil analisis usaha tani, hasil yang lebih efisien adalah perlakuan yang menggunakan kombinasi sistem pertanian berlanjut dengan penyiangan 42 hst dengan R/C ratio sebesar 3,39.

Kata kunci: Padi, Gulma, Penyiangan, Sistem Pertanian, Konvensional, Berlanjut

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH MEDIA TANAM DAN INTERVAL PEMBERIAN LARUTAN NUTRISI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KAILAN (Brassica oleracea L. var. alboglabra) SECARA HIDROPONIK SUBSTRAT

Aristiani Epri San Indahsari*) dan Nurul Aini

Kailan adalah tanaman hortikultura yang temasuk dalam famili Brassicaceae, Permintaan terhadap komoditas sayuran, khususnya kailan di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya penduduk dan konsumsi per kapita. Salah satu cara untuk menghasilkan produk sayuran yang berkualitas tinggi adalah budidaya dengan sistem hidroponik. Tetapi belum diketahui media tanam dan interval pemberian nutrisi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman kailan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari interaksi antara  media tanam dan interval pemberian nutrisi pada pertumbuhahan dan hasil tanaman kailan. Penelitian dilaksanakan di green house Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Jalan Telaga Warna Blok C Tlogomas, Lowokwaru, Malang pada bulan Oktober sampai November 2016. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan  Media tanam tidak mempengaruhi interval pemberian larutan nutrisi pada pertumbuhan dan hasil tanaman kailan secara hidroponik substrat.. Media tanam cocopeat memiliki tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar total dan bobot segar konsumsi tertinggi dibandingkan media tanam arang sekam dan arang sekam : cocopeat 1:1. Interval 1 hari dan 2 hari memiliki  tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar total dan bobot segar konsumsi lebih tinggi dibandingkan interval 3 hari, sehingga interval 2 hari lebih efisien.

Kata kunci: Kailan, Hidroponik, Media, Interval.

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH APLIKASI KOMBINASI BIOURIN SAPI DENGAN EM4, KOTORAN SAPI DAN PUPUK ANORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.)

Arif Rahmanda*), Nur Azizah, dan Mudji Santosa

Kacang merah ialah komoditas hortikultura yang dimanfaatkan bijinya untuk kesehatan tubuh manusia. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan hasil produksi kacang merah ialah dengan menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik secara berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi kombinasi biourin sapi dengan EM4, kotoran sapi dan pupuk anorganik, dan untuk mendapatkan kombinasi yang tepat antara biourin sapi dengan EM4, kotoran sapi dan pupuk anorganik pada pertumbuhan dan hasil kacang merah. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 27 petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi kombinasi biourin sapi dengan EM4, kotoran sapi dan pupuk anorganik memberikan hasil yang lebih baik daripada tanpa menggunakan aplikasi kombinasi perlakuan. Tanaman yang diberi perlakuan biourin dan 100% anorganik memberikan hasil bobot biji ha-1 sebesar 4,53 ton ha-1 lebih tinggi 27,2% dibandingkan tanaman yang hanya diberi perlakuan 100% organik. Pemberian aplikasi kombinasi biourin dengan 100% organik, biourin dan 50% anorganik + 50% organik, biourin yang dicampur EM4 dan 100% anorganik, biourin yang dicampur dengan EM4 dan 100% organik dan biourin yang dicampur dengan EM4 dan 50% anorganik + 50% organik, mempunyai bobot biji tanaman-1 dan ha-1 tidak berbeda nyata dengan biourin dan 100% anorganik.

Kata kunci: Kacang Merah, Biourin Sapi, EM4, Kotoran Sapi, Pupuk Anorganik.

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


EVALUASI PERUBAHAN DESAIN ALUN-ALUN MERDEKA MALANG

Rut Ria Widiawati*), Euis Elih Nurlaelih, Didik Hariyono

Perubahan desain Alun-alun Merdeka Malang telah dilakukan pada bulan Januari-April 2015. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan kajian melalui persepsi pengunjung terhadap perubahan desain yang terjadi ditinjau dari aspek keindahan, kenyamanan, dan fungsi sosial serta mendeskripsikan fungsi sosial yang baru. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2016. Metode yang dilakukan adalah Evaluasi Purna Huni dengan tiga tahap pelaksanaan yaitu observasi, quisioner, dan pengukuran iklim mikro.  Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan 3 metode, yaitu analisis deskriptif eksploratif, analisis deskriptif statistik dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alun-alun Merdeka Malang setelah renovasi lebih indah, nyaman dan memiliki fungsi sosial dan fungsi lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum renovasi. Pada aspek keindahan, faktor-faktor yang mempengaruhi adalah tema, warna, titik perhatian, bentuk, ritme, proporsi dan keseimbangan. Nilai rata-rata keindahan menurut pengunjung adalah 93,85%. Untuk aspek kenyamanan, berdasarkan pengukuran THI didapatkan nilai 25,42 dengan kategori nyaman dan berdasarkan persepsi pengunjung nilai rata-rata kenyamanan adalah 76%. Pada aspek sosial, nilai rata-rata persepsi pengunjung untuk keberhasilan fungsi sosial sebesar 85% dan memiliki fungsi sebagai sarana rekreasi, relaksasi, bermain anak, dan interaksi sosial. Pada aspek lingkungan, Alun-alun Merdeka Malang memiliki fungsi sebagai bio ekologis, ekosistem perkotaan dan estetika serta memiliki 52 jenis tanaman yang tersebar pada tiga kategori, yaitu tanaman peneduh, penghias dan penutup tanah.

Kata kunci : Alun-alun Merdeka Malang, Perubahan Desain, Evaluasi Purna Huni, Persepsi Pengunjung

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH HERBISIDA BERBAHAN AKTIF TOPRAMEZONE PADA GULMA DAN JAGUNG (Zea mays) HIBRIDA

Fajar Handoko*), Agung Nugroho dan Titin Sumarni

Jagung (Zea mays) merupakan tanaman pangan yang penting di Indonesia setelah padi. Salah satu kendala yang dihadapi petani dalam budidaya jagung ialah adanya gulma. Kehadiran gulma pada tanaman jagung merupakan penyebab terhadap rendahnya hasil jagung tersebut.  Tujuan: 1). Untuk mengetahui kemampuan herbisida Topramezone untuk menekan pertumbuhan gulma pada pertanaman jagung. 2). Untuk mengetahui pengaruh herbisida Topramezone terhadap tanaman jagung. Penelitian dilakukan bulan Juni sampai September 2014 di kebun percobaan Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 9 perlakuan 3 ulangan:  H0: Tanpa penyiangan dan tanpa aplikasi herbisida H1: Herbisida Topramezone dosis 1 liter ha-1; H2: Herbisida Topramezone dosis 1,5 liter ha-1; H3: Herbisida Topramezone dosis 2 liter ha-1; H4: Herbisida Topramezone dosis 2,5 liter ha-1; H5: Herbisida Topramezone dosis 3 liter ha-1; H6: Herbisida Calaris dosis 1 liter ha-1; H7: Penyiangan 1x; H8: Penyiangan 2x. Hasil penelitian menunjukkan, herbisida Topramezone dosis 1 l ha-1 dapat mengendalikan gulma Amaranthus spinosus, Ipomea triloba, Elephantopus scaber, Physalis angulata, Mimosa pudica L, Cynodon dactilon, Imperata  cylindrical, Digitaria stigera R&S. selain itu, herbisida Topramezone dosis 1 liter ha-1  mampu menurunkan bobot kering gulma sebesar 19,82%. Herbisida Topramezone tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung, namun meningkatkan hasil pada dosis 1 liter ha-1 sebesar 10,88%.

Kata Kunci : Jagung, Gulma, Herbisida Topramezone

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


DAMPAK RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN MIKRO DAN KENYAMANAN LINGKUNGAN

Agung Fikriy Oktafillah*), Sisca Fajriani dan Ariffin

Kota Malang hawa yang sejuk dengan suhu rata-rata harian 27°C karena berada pada ketinggian 440 – 667 meter dpl. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Kota Malang menyebabkan polusi udara dan peningkatan suhu udara, meningkatnya suhu udara tidak diimbangi dengan ketersediaan RTH di Kota Malang. RTH dapat berpengaruh terhadap iklim mikro di kawasan tapak berada, iklim mikro akan berdampak pada tingkat kenyamanan lingkungan di kawasan RTH. Penelitian bertujuan untuk menilai perubahan lingkungan mikro dan kenyamanan lingkungan akibat adanya RTH. Penelitian dilakukan selama bulan September sampai bulan Oktober 2016 di RTH yaitu Jalur Hijau Jalan Veteran, Hutan Kota Malabar dan Taman Merjosari dan daerah bukan-RTH yaitu Jalan Kerto Raharjo. Parameter pengamatan berupa suhu udara, kelembaban udara dan tingkat kenyamanan lingkungan. Analisis tingkat kenyamanan dihitung menggunakan metode Thermal Humidity Index (THI).  Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh dari RTH Hutan Kota Malabar terhadap lingkungan mikro dan tingkat kenyamanan lingkungan di kawasan RTH. Peran RTH Hutan Kota Malabar terlihat dari turunnya suhu udara dan naiknya kelembaban udara dibandingkan dengan daerah sekitar dengan jarak 150 m, pada RTH Jalur Hijau Jalan Veteran dan Taman Merjosari pengaruh yang diberikan tidak sebesar RTH Hutan Kota Malabar. RTH yang termasuk kategori nyaman yaitu RTH Hutan Kota Malabar dengan indeks THI 23,46. RTH Taman Merjosari termasuk kategori sedang dengan indeks THI 25,33. RTH Jalur Hijau Jalan Veteran termasuk kategori tidak nyaman dengan indeks THI 26,11 dan Jalan Kerto Raharjo termasuk kategori tidak nyaman dengan indeks THI 27,13.

Kata Kunci: RTH, Lingkungan, Kenyamanan, THI

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PEMBENTUKAN POLONG DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril) DENG AN PEMBERIAN NITROGEN PADA FASE GENERATIF

Rosilia Puspasari*), Anna Setyana Karyawati, Syukur Makmur Sitompul

Fase pertumbuhan dibagi menjadi dua fase pertumbuhan vegetatif dan fase generatif. Dari fase pertumbuhan tersebut terbentuk karakter morfologi tanaman kedelai, seperti tinggi tanaman, jumlah polong isi dan hampa, jumlah biji dan berat polong yang menentukan hasil. Penelitian ini bertujuan mempelajari pemberian nitrogen pada fase generatif untuk meningkatkan pembentukan polong dan hasil pada tanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016  sampai September 2016, Agroteknopark Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan penelitian terdiri dari galur kedelai (UB1 dan UB2) dan pemberian N.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian nitrogen dengan perlakuan 1/3 pada vegetatif dan 2/3 pada fase generatif memberikan tinggi tanaman dan jumlah daun paling baik, pemberian nitrogen 2/3 pada fase vegetatif dan 1/3 pada fase generatif memberikan luas daun paling baik, pemberian nitrogen 1/2 pada fase vegetatif dan 1/2 pada fase generatif memberikan berat kering total  paling terbaik. Dilihat dari komponen hasil, pemberian nitrogen 1/2 pada fase vegetatif dan 1/2 pada fase generatif memberikan jumlah polong, jumlah biji, berat polong dan jumlah polong hampa paling baik, sedangkan berat 100 biji paling baik terdapat pada perlakuan pemberian nitrogen 2/3 pada fase vegetatif dan 1/3 pada fase generatif.

Kata kunci: Kedelai, Nitrogen, Polong, Fase Generatif.

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH APLIKASI BIOURIN SAPI, KOMPOS KOTORAN SAPI DAN PENAMBAHAN N ANORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.)

Verawati Karlinda Bili*) dan Mudji Santoso

Selada (Lactuca sativa L.) memiliki kandungan gizi yang tinggi diantaranya iodium, fosfor, besi, kobalt, seng, kalsium dan kalium serta mengandung vitamin A, asam folat dan beta karoten. Rata-rata panen selada mencapai 15-20 ton per hektar. Bertambahnya permintaan selada menimbulkan permasalahan, yaitu ketergantungan terhadap N anorganik sehingga diperlukan penelitian melalui kombinasi pupuk organik dan anorganik untuk mendapatkan hasil selada terbaik. Penelitian dilaksanakan di Bumiaji, Batu pada Mei – Agustus 2016 pada ketinggian 1000 mdpl, dengan suhu 18-240C, curah hujan 2471 mm per tahun dan jenis tanah andosol. Penelitian terdiri atas 9 perlakuan, yaitu P1: Tanpa biourn, urea maupun kompos, P2 : Biourin (1 L urin sapi : 5 kg feses : 25 L air), P3 : Biourin (1 L urin sapi : 5 kg feses : 50 L air), P4 : 25 kg ha-1 urea, P5 : 50 kg ha-1 urea, P6 : 5 ton ha-1 kompos, P7 : 10 ton ha-1 kompos, P8 : Biourin (1 L urin sapi : 5 kg feses : 25 L air) + 25 kg ha-1 urea + 5 ton ha-1 kompos dan P9 : Biourin (1 L urin sapi : 5 kg feses : 50 L air) + 50 kg ha-1 urea + 10 ton ha-1 kompos. Penelitian dilakukan menggunakan RAK dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P9 memberikan hasil terbaik pada bobot segar selada sebesar 41,43 ton per hektar atau mencapai 39,91 % perlakuan P1 (tanpa biourin, urea, maupun kompos).

Kata kunci : Selada, Pupuk Organik, Biourin Sapi, Urea, Kompos Kotoran Sapi.

Posted in Volume 9, No 7 (2021).


PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI ZPT ATONIK PADA PERTUMBUHAN BERBAGAI ASAL BATANG STEK SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.)

Febry Elvy Pakpahan*), Nur Azizah dan Sudiarso

Sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) merupakan tanaman yang bermanfaat sebagai tanaman hias dan obat. Kebutuhan minyak sirih merah di Indonesia sebanyak 2.000 liter per bulan, namun saat ini baru bisa terpenuhi kurang lebih 115 liter per bulan (Sadiman, 2014). Perbanyakan sirih merah untuk meningkatkan produksi sirih merah dapat menggunakan stek batang. Setiap bagian batang sirih merah memiliki potensi yang berbeda sebagai bahan stek dan pemberian ZPT atonik mampu  merangsang pertumbuhan tanaman sirih merah. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh konsentrasi ZPT atonik dan asal bahan tanam pada pertumbuhan stek batang sirih merah dan membandingkan pertumbuhan stek dengan menggunakan ZPT atonik dan asal batang stek. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2016 di Perumahan Bukit Hijau Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor perlakuan asal batang stek (batang tengah dan batang bawah) dan konsentrasi ZPT atonik (0ml.l-1, 1 ml.l-1, 2 ml.l-1 ,3 ml.l-1) dan 3 kali ulangan dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi pada asal batang stek dan konsentrasi atonik terhadap pertumbuhan stek sirih merah. Batang bawah dengan atonik 2ml.l-1 merupakan perlakuan terbaik.

Kata kunci: Sirih Merah, Atonik, Auksin, Asal Batang

Posted in Volume 9, No 7 (2021).




?>